Children’s Rights Problem #5: Putus Sekolah


Putus Sekolah Pada Anak

Disusun Oleh: Grace M. Sinulingga

Perjuangan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia telah lama dimulai, sejak abad ke-19. Awal perjuangan ini dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini. Beliau mulai menyuarakan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) melalui surat-surat yang dituliskan sekitar 40 tahun sebelum kemerdekaan. Kemudian, perjuangan akan Hak Asasi Manusia (HAM) dilanjutkan di era orde lama, orde baru hingga reformasi.

            Namun, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Indonesia masih marak terjadi. Kasus-kasus seperti kekerasan pada anak, mempekerjakan anak dibawah umur, pernikahan muda pada anak-anak dan masalah putus sekolah. Salah satu cita-cita Indonesia yang tertulis dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, hingga kini masalah putus sekolah yang terjadi di Indonesia masih menjadi salah satu kasus yang paling banyak terjadi di Indonesia. Menurut data UNICEF pada tahun 2016, masih terdapat 2,5 juta anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan hingga tingkat lanjut.

            Pemerintah Indonesia juga menekankan pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari undang-undang tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan merupakan faktor terpenting khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Apabila kualitas sumber daya manusia sebuah negara sudah baik, maka dapat menunjang keberhasilan suatu negara di masa mendatang.

“Menurut data UNICEF pada tahun 2016, masih terdapat 2,5 juta anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan hingga tingkat lanjut..”

Namun, fakta yang terdapat di lapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia. Nyatanya, banyak anak-anak Indonesia yang tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak faktor yang menjadi penyebab anak-anak Indonesia harus putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Faktor yang pertama adalah keluarga. Kondisi sebuah keluarga ternyata mempengaruhi terhadap minat dan pendidikan seorang anak. Hal ini dapat kita lihat dari anak-anak yang berasal dari desa. Pada umumnya anak-anak yang berasal dari desa memiliki orang tua yang juga tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Apabila orang tua dari anak ini tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan, maka anaknya pun memiliki peluang untuk memiliki tingkat pendidikan yang tidak jauh berbeda dengan orangtuanya. Selain itu, kondisi keuangan sebuah keluarga juga mempengaruhi tingkat pendidikan seorang anak. Kasus ini banyak terjadi di masyarakat. Terdapat banyak anak yang memiliki kemampuan yang cemerlang, tetapi orangtuanya tidak memiliki kemampuan untuk membiayai pendidikan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Keluarga yang umumnya terkena masalah seperti ini adalah keluarga yang memiliki banyak anggota. Orangtua memiliki beban yang lebih berat untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sehingga tidak semua dari anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

 

 

 

 

“.. Pendidikan merupakan faktor terpenting khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Apabila kualitas sumber daya manusia sebuah negara sudah baik, maka dapat menunjang keberhasilan suatu negara di masa mendatang.”

Faktor kedua yang dapat menyebabkan banyaknya kasus putus sekolah pada anak-anak di Indonesia adalah lingkungan sekolah. Anak-anak atau peserta didik tentunya banyak berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Interaksi yang terjadi di antara mereka tentunya tidak semuanya positif. Terdapat banyak interaksi yang dapat menimbulkan konflik diantara anak-anak tersebut. Konflik yang terjadi diantara mereka dapat menimbulkan kebencian. Kebencian yang ditimbulkan tentunya dapat menyakiti beberapa pihak yang dapat menyebabkan korban menjadi anak yang penyendiri,tidak disukai teman dan dapat memicu anak untuk malas pergi ke sekolah. Perasaan sang anak yang merasa diasingkan ini tentunya dapat mendorong seorang anak untuk putus sekolah.

Faktor ketiga yang dapat menyebabkan seorang anak putus sekolah adalah lingkungan masyarakat. Lingkungan dimana seorang anak tumbuh merupakan tempat ia berinteraksi. Lingkungan akan membentuk kepribadian dan juga pola piker seorang anak. Apabila lingkungan tempat anak tersebut tumbuh merupakan lingkungan yang sehat maka dapat membentuk kepribadian dan juga pola pikir yang baik untuk anak tersebut. Begitu juga sebaliknya, bila lingkungan tempat anak tersebut merupakan lingkungan yang buruk, maka dapat membentuk kepribadian dan juga pola pikir yang buruk bagi sang anak. Hal ini tentunya sangat berpengaruh khususnya bagi anak-anak yang masih pada usia sekolah. Pengaruh dari teman-teman sepermainan yang berada di lingkungan tempat tinggal seorang anak juga memiliki pengaruh yang sangat spesifik pada tingkat pendidikan seorang anak. Apabila anak tersebut banyak berinteraksi dengan anak-anak yang hanya senang bermain, maka akan dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar yang dapat menyebabkan mereka enggan untuk melanjutkan sekolah mereka.

Faktor yang terakhir adalah minat. Fakta yang terdapat di masyarakat terdapat lebih banyak anak yang lebih memilih untuk bekerja dibandingkan untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak anak yang beranggapan bahwa sekolah tidak menyenangkan sehingga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan mereka. Selain itu, minat dari orangtua juga mempengaruhi keinginan seorang anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Apabila seorang anak dibesarkan oleh orangtua yang tidak mampu memotivasi anak dalam belajar, maka akan besar kemungkinan anak tersebut tidak dapat menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak putus sekolah dan tidak meanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi tentunya harus ditangani dengan cepat dan tepat. Tentunya dibutuhkan banyak pihak agar masalah putus sekolah pada anak tidak berlangsung selamanya. Pihak yang tentunya sangat mempengaruhi adalah keluarga. Keluarga merupakan agen yang dapat membantu masalah putus sekolah dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat. Keluarga dengan orangtua yang mungkin memiliki tingkat pendidikan yang rendah harus diberikan edukasi tentang pentingnya pendidikan yang tinggi pada anak. Apabila anak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, maka kehidupannya dan negaranya di masa depan dapat menjadi lebih baik. Orangtua juga harus diberikan edukasi tentang pentingnya memotivasi anak dalam belajar. Motivasi yang diberikan pada anak akan terus menjaga semangat anak tersebut dalam menjalani dunia pendidikan.

            Pihak lain yang bertanggung jawab dalam menangani masalah putus sekolah pada anak adalah sekolah dan semua anggota yang berada di sekolah. Sekolah harus kembali menanamkan nilai pada setiap murid yang berada di lingkungan sekolah tersebut agar bersahabat dengan semua teman tanpa membeda-bedakan. Hal ini tentunya sangat membantu anak-anak untuk terus semangat bersekolah. Jika anak tersebut nyaman berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, tentunya tidak ada alasan yang membuat anak tersebut untuk tidak melanjutkan sekolah. Suasana dan lingkungan yang mendukung akan terus membantu anak tersebut semangat dalam menjalani pendidikan dan termotivasi untuk melanjutkannya hinga ke jenjang yang lebih tinggi.

            Pada akhirnya, masalah putus sekolah ini, tentunya bukanlah sebuah masalah yang ringan. Bukan juga sebuah masalah yang tidak perlu diperhatikan karena masa depan sebuah bangsa berada di tangan generasi muda dengan kualitas sumber daya yang baik. Pihak-pihak yang memiliki peranan penting harus mampu menjalankan tanggung jawab mereka dengan baik. Dengan peranan aktif dari pihak-pihak tersebut maka, masalah putus sekolah pada anak dapat diatasi dengan baik.

 

Referensi

Sinaga, Deddy. (2017, April 18). Tingginya Angka Putus Sekolah di Indonesia. Retrieved December 10 2018, From https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170417145047-445-208082/tingginya-angka-putus-sekolah-di-indonesia/

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *