JiMin SNF: Guru dan Generasi Millenial


Guru dan Generasi Milenial

Disusun oleh: Arvin Mahardika, Emi Yulastriningsih, Himanda F. Pramudhya, Moh. Irzat Choirun Nawaz, Nurulasihah Jati, dan Nur Aini Darwis

Millenial, Y, atau Net merupakan sebuah istilah yang diberikan kepada generasi yang lahir pada tahun 1980 hingga awal 2000. Mereka yang tergolong pada generasi ini tumbuh bersama dengan TV berwarna, jaringan internet, dan kemudahan lain akibat dari berkembangnya teknologi. Generasi Millenial, atau juga disebut Millenials, terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan hal ini mempengaruhi bagaimana karakter mereka.

Millenials memiliki karakter tersendiri yang banyak dipengaruhi oleh teknologi dan internet. Mereka cenderung optimis, tumbuh dengan kepercayaan bahwa mereka spesial, dan yakin dengan cita-citanya. Selain itu, generasi millenial memiliki sikap yang lebih toleran, berpikiran terbuka, dan mudah mengutarakan pendapat. Di sisi lain, generasi ini memiliki sikap yang cenderung narsistik. Mereka juga cenderung menjadi kutu loncat di dunia kerja, serta lebih terfokus pada nilai materialistik dan ketenaran.

Terhitung hingga bulan Februari 2018, jumlah penduduk yang berada di usia 15-39 adalah sebesar 105.776.311. Jumlah ini mewakili 39,91% dari total penduduk di Indonesia. Angka ini bisa mewakili populasi generasi millenial yang ada di Indonesia meskipun data yang digunakan adalah jumlah penduduk pada usia 15-39. Dari jumlah tersebut, tercatat 15.599.670 masih menjadi pelajar.

Perkembangan teknologi yang sudah disebutkan mempengaruhi banyak aspek kehidupan tidak luput mempengaruhi perkembangan dunia pendidikan. Dengan total 14,74% dari generasi millenial yang masih menjadi pelajar dan distribusinya condong kepada mereka yang masih berusia 15-19 tahun, menunjukkan bahwa banyak pelajar SMA merupakan generasi milenial. Dengan karakter unik yang dimiliki oleh generasi millenial, proses pembelajaran di sekolah harus selaras dengan kebutuhan generasi tersebut dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Guru, sebagai pemegang kunci kesuksesan pembelajaran di kelas, baik adanya untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter generasi millenial. Menggunakan metode pembelajaran yang sumbernya dibatasi oleh buku paket dinilai kurang dapat memenuhi kebutuhan mereka yang terbiasa berpikir out of the box. Saat keingintahuan mereka semakin tinggi dan guru di kelas tidak sanggup memberikan jawaban yang tepat, pada akhirnya kepercayaan siswa kepada kegiatan belajar di kelas berkurang. Hal ini memang merupakan sebuah tantangan besar bagi guru; untuk membuat proses pembelajaran menjadi menarik dengan tidak melupakan esensi utama belajar, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan seluas-luasnya.

Bagaimana seorang Guru bisa menjadi Guru Milenial?

Guru sebagai tenaga pendidik harus bisa menyeimbangkan metode pengajaran dengan perkembangan murid sesuai tuntutan zaman. Karenanya, sebagai tenaga pendidik, guru atau dosen sebaiknya memerhatikan hal-hal berikut dalam mengajar:

  1. Metode Pengajaran Fleksibel

Seorang tenaga pendidik memahami bahwa salah satu karakteristik kaum milenial adalah kecenderungan individualistik yang lebih tinggi, dan masing-masing siswa memiliki gaya belajarnya sendiri. Jadi idealnya, seorang pendidik seharusnya mampu dan berani menyesuaikan metode pengajarannya sesuai kebutuhan masing-masing murid meski di luar metode konvensional, agar dapat membuat mereka lebih memahami apa yang diajarkannya.

  1. Thinking Outside the Box

Kaum milenial hidup di masa ketika informasi tersebar dengan cepat. Guru sebaiknya terus mencoba untuk membuat metode pengajaran baru yang sesuai dengan apa yang menjadi trending topic saat itu, kemudian bereksperimen dengan mencoba hal-hal baru dalam metode pembelajaran.

  1. Pengajaran Terbalik (Flipped Learning)

Generasi Millenial sadar bahwa anak-anak mengalami kesulitan untuk memperhatikan dalam jangka waktu yang lama, jadi kita sekarang melihat para guru milenial mengadopsi gaya pengajaran terbalik yang dikenal sebagai belajar membalik. Pembelajaran terbalik adalah di mana siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran sebelum kelas dimulai. Dan waktu kelas digunakan untuk memperdalam pemahaman materi pembelajaran melalui diskusi dan kegiatan pemecahan masalah yang diselenggarakan oleh guru. Jenis pembelajaran ini lebih interaktif dan mendorong lebih banyak keterlibatan siswa-guru.

  1. Manajemen Kelas yang Berbeda

Guru Millenial cenderung memberikan hal baru didalam kelasnya; mencoba hal-hal baru yang tidak biasa dilakukan oleh guru lain. Misalnya, seorang guru mengijinkan siswanya untuk mendengarkan music klasik ketika pembelajaran berlangsung karena sebelumnya ada penelitian yang menyebutkan bahwa mendengarkan music klasik tanpa lirik dapat merangsang tingkat konsentrasi seseorang.

  1. Menekankan Partisipasi

Guru milenial idealnya lebih mendorong siswa mereka untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas atau kegiatan. Karena guru millenial mendorong diskusi dan partisipasi, para siswa juga belajar dan menyadari bahwa akan lebih bagus jika terdapat banyak persepsi untuk memecahkan sebuah masalah. Dengan cara ini, kreativitas juga dipupuk dan digunakan di kelas.

  1. Kepedulian dan Empati

Seorang guru sudah semestinya menjadi pengganti orang tua disekolah. Idealnya, guru mampu menjadi teman, sahabat, dan juga pendengar yang baik ketika muridnya mengalami kesusahan. Mereka bisa saja berbincang mengenai hal-hal yang diluar akademis anak, serta menyadari bahwa tiap anak jugalah manusia dengan masalah pribadi masing-masing, dan kondisi hati mereka juga merupakan dasar penentu kemampuan mereka untuk fokus di kelas.

———-

Hal yang dipaparkan diatas hanya contoh sebagian kecil cara yang bisa membuat seorang guru menjadi Guru Millenial. Masing-masing Negara di dunia biasanya memiliki cara tersendiri untuk bisa memajukan pendidikan Negaranya. Guru millennial berpengaruh besar terhadap kemajuan pendidikan suatu Negara dengan cara menciptakan generasi millennial yang berkualitas.

  1. Guru Millennial di Canada

Kanada merupakan salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Dapat dilihat dari keberhasilan pendidikan disana. Para pelajar tingkat dasar dan menengah (K-12) di Kanada senantiasa berada pada peringkat diantara lima juara akademis top dunia dalam hal membaca, matematika dan ilmu pengetahuan didalam Organisasi untuk Program Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) untuk Kajian Pelajar Internasional. Pelajar internasional dapat memperoleh manfaat dari lingkungan yang kondusif berkat sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Di Kanada tidak ada system ranking, sebagai gantinya anak dengan nilai tertinggi dikelasnya akan diberikan sertifikat dan namanya akan tercantum dalam daftar anak-anak yang berprestasi. Selain itu orang tua juga akan lebih mudah memantau anak-anaknya karena, komunikasi orang tua dan guru dimudahkan melalui buku agenda. Di awal tahun setiap anak diberikan buku agenda yang berisi peraturan sekolah, jadwal kegiatan selama setahun, serta lembaran komunikasi untuk guru dan orang tua.

Untuk mencapai kualitas pendidikan yang tinggi dibutuhkan juga tenaga pendidik dengan kualitas tinggi pula serta mampu menguasai teknologi modern dan memiliki metode yang efektif dan membuat siswa tertarik untuk belajar. Millennial Teachers memiliki hal tersebut. Di Kanada sendiri, sudah terdapat banyak Millennial Teachers. Penguasaan teknologi dan informasi, serta metode belajar yang digunakan lebih efektif untuk generasi masa kini.

  1. Penerapan Sistem Belajar di Finlandia

Timothy D. Walker dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar Seperti Finlandia membeberkan beberapa rahasia strategi pembalajaran di Finlandia yang sangat menyenangkan.

  1. Pendidikan di Finlandia sangat memerhatikan kesejahteraan, baik itu murid maupun guru. Kesehatan fisik, emosi, dan mental guru siswa menjadi hal penting dalam pendidikan di Finlandia.
  2. Memberikan rasa “saling memiliki”. Secara rutin, Tim selalu menyapa siswanya, berdiri tegak di depan pintu dan menyapa nama mereka satu per satu saat memasuki kelas. Selain itu, makan siang bersama mereka secara teratur, dan melaksanakan kunjungan rumah untuk memperdalam hubungan guru dan murid.
  3. Mendorong siswa agar memiliki kemandirian. Ini adalah sesuatu yang sangat penting dalam pendidikan di Finlandia. Beberapa strategi yang dilakukan Tim untuk mengembangkan kemampuan siswa yang supermandiri yakni dengan memberikan kebebasan, meninggalkan batas, menawarkan pilihan, membuat rencana bersama siswa, membuat jadi nyata, dan tuntutan tanggung jawab.
  4. Penguasaan. Tim mengumpulkan beberapa strategi pengelolaan kelas untuk mengembangkan penguasaan, yakni mengajarkan hal-hal mendasar; gunakan teknologi; berikan pendampingan; buktikan pembelajaran; dan diskusikan soal nilai.
  5. Pola pikir. Dalam rangka meningkatkan kegembiraan dalam kelas, sebagai guru perlu menumbuhkan pendekatan pikir positif abundance-oriented. Strategi untuk membina sudut pandang abundance-oriented tersebut, pendidik Finlandia menerapkan beberapa pendekatan dalam pekerjaan mereka: mencari flow, berkulit tebal, berkolaborasi lewat kopi, menyambut para ahli, berlibur, dan yang terakhir, jangan lupa bahagia. (VEL)

 

 

 

Referensi

Badan Pusat Statitstik. Statistik Indonesia 2018. July 3, 2018.

Shulyakovskaya, Lena. “Millennial Teachers in Canada: Why the Youngest Generation of Canadian Professionals Leave Teaching.” UNIVERSITY OF CALGARY, Lena Shulyakovskaya, 2017, pp. i-197.

Herbet, Brynne. (2013, June 27). What Makes Gen Y Unique? : The Gen Y Zone. Retrieved November 27, 2018, from https://www.topia.com/blog/what-makes-gen-y-unique-the-gen-y-zone

Khittah.co, R. (2017, August 29). Redaksi Khittah.co. Retrieved November 28, 2018, from http://www.khittah.co/mengintip-cara-mengajar-di-finlandia/8036/

Rouse, Margaret. (June 2018). Miilenials (generation Y). Retrieved November 27, 2018. From https://whatis.techtarget.com/definition/millennials-millennial-generation

6 Ways Millennial Teachers Are Making a Positive Impact. (2018, July 02). Retrieved November 28, 2018, from http://thelearningstation.co.uk/blog/6-ways-millennial-teachers-making-positive-impact/

Education in Canada. (n.d.). Retrieved November 28, 2018, from http://www.studycanada.ca/indonesia/education.htm

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *