JiMin SNF – Stunting: Bukan Cuma Soal Tinggi!


Stunting; Bukan Cuma Soal Tinggi!

Disusun oleh Deshinta Rahma Dhani, Fajar Ramadhan, Fhina Chansa, Maulida Gadis, Nurlaily Setyasari, dan Widi Yulia Hesa

Nama gadis muda itu Pipit. Usianya tak lebih dari 15 tahun, hanya terpaut dua tahun dengan adik bungsunya, Laura. Akan tetapi jika disandingkan, tinggi Pipit masih jauh dibawah Laura, 130 cm dibandingkan adiknya yang sudah mencapai 150 cm.

Pipit bukan satu-satunya yang mengalami kondisi tersebut. Masih di desa yang sama, seorang siswa SD berumur 9 tahun, Fitra, selalu menjadi yang orang terdepan dalam barisan upacara. Ia  merupakan siswa terpendek di kelasnya. Tingginya? Hanya 92 cm.

Mereka hanya merupakan dua dari sekian ribu potretkondisi gizi buruk berupa stunting yang ada di indonesia. Menurut data kemenkes, 1 dari 4 anak di Indonesia mengalami kondisi stunting.

Jadi, Apa itu Stunting?

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya

      Tanda utama stunting adalah 
tubuh pendek di bawah rata-rata. Beberapa gejala dan tanda lain yang terjadi ketika anak mengalami stunting adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan melambat
  2. Wajah terlihat lebih muda dari usianya
  3. Pertumbuhan gigi terlambat
  4. Berat badan tidak naik, bahkan cenderung menurun
  5. Perkembangan tubuh terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan)
  6. Anak mudah terkena penyakit infeksi
  7. Pada usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang disekitarnya.

Lantas, apa sih yang sebenarnya menyebabkan Stunting?

Anak stunting (bertubuh pendek) merupakan indikasi kurangnya asupan gizi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebuah studi menyatakan 20 persen kasus stunting bermula dari Ibu yang mengalami malnutrisi saat mengandung. Hal ini dapat diperparah dengan kurangnya  makan makanan bergizi, infeksi berulang, dan diet yang salah pada anak. Sehingga mereka tidak mendapat nutrisi yang cukup untuk mendukung tumbuh kembangnya.

 

Stunting juga menimbulkan dampak lain, Stunting dapat menimbulkan beberapa dampak diantaranya pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi. Pada jangka pendek anak yang mengalami stunting akan merasa terhambat dalam akademis. Sedangkan dalam sisi kesehatan, Anak yang mengidap stunting akan semakin rentan terkena penyakit seperti diabetes dan kanker.

Dilansir dari Unicef, stunting mengakibatkan terhambatnya perkembangan dan kinerja otak yang berdampak terhadap rendahnya IQ (intelligence quotient) pada anak. Asesmen yang dilakukan pada tahun 2012 oleh OECD PISA (Organisation for Economic Co-operation and Development – Programme for International Student Assessment), suatu organisasi global bergengsi, terhadap kompetensi 510.000 pelajar usia 15 tahun menunjukan bahwa Indonesia menempati posisi ke 64 dari 65 negara yang diberikan penilaian dari sisi tingkat kecerdasan dalam bidang membaca, matematika, dan sains.

Pada tahun 2017, Indonesia menempati posisi ke-4 sebagai negara yang memiliki penderita stunting terbanyak dengan penderita stunting sebanyak 8,8 juta jiwa dengan prevalensi stunting sebesar 36%. Walaupun begitu, data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 menunjukan penurunan angka stunting dari tahun 2013 yang sebesar 37,2% menjadi 30,8% di tahun 2018. Angka tersebut menunjukan adanya kemajuan dalam upaya pemberantasan stunting di Indonesia. Namun, pemerintah harus tetap melakukan berbagai upaya supaya angka prevalensi tersebut terus menurun sampai setidaknya berada di bawah 20%.

 

Kampanye “Isi Piringku” sebagai Upaya Pemberantasan Stunting

            Pada tahun 2017 pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengeluarkan sebuah kampanye yang diberi nama Isi Piringku. Adapun kampanye tersebut berisi panduan porsi makanan yang tepat untuk dikonsumsi dalam satu piring. Kampanye ini disebut dapat menggantikan kampanye 4 sehat 5 sempurna karena dinilai sudah tidak relevan. Kampanye 4 sehat 5 sempurna hanya memberikan panduan tentang makanan apa saja yang harus dikonsumsi namun tidak memberikan panduan tentang seberapa banyak porsi untuk setiap makanan dalam satu kali makan. Sebagai contoh bisa saja seseorang sudah memenuhi 4 sehat 5 sempurna, namun ternyata porsi karbohidrat dalam satu piringnya sangat banyak sedangkan porsi sayurnya hanya sedikit. Hal tersebut tentu akan menjadi tidak baik juga bagi kesehatan. Maka dari itu, kampanye Isi Piringku dinilai lebih relevan untuk memberantas kekurangan gizi yang menyebabkan stunting.

 

Dampak Stunting bagi Populasi Indonesia

Stunting yang merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kurangnya asupan gizi dapat menjadi ancaman bagi generasi Indonesia di masa mendatang. Generasi yang tumbuh adalah generasi yang serba kekurangan karena mereka tidak bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Indonesia yang diperkirakan akan melewati masa bonus demografi hingga tahun 2030 juga akan menjadi sia-sia. Bonus demografi yang dialami tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena tidak mampu menciptakan generasi emas Indonesia.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, pada tahun 2030 angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68 persen dari total populasi dan angkatan tua (65 tahun ke atas) sekitar 9 persen. Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan 37,2 persen (9 juta balita) di Indonesia pada 2013 mengalmi stunting. Hal itu dapat diartikan bahwa satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting.

Berdasarkan Laporan Human Development Report 2016, IPM Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 dari 188 negara, sedangkan Tingkat Kecerdasan anak Indonesia dalam bidang membaca, matematika, dan sains berada diposisi 64 dari 65 negara (OECD PISA, 2012), dan anak Indonesia tertinggal jauh dari anak Singapura (posisi 2), Vietnam (posisi 16), Thailand (posisi 50) dan Malaysia (posisi 52). Melihat hal tersebut, maka Indonesia harus segera mencari solusi untuk mencegah kondisi stunting pada masyarakat khususnya balita sehingga bonus demografi yang terjadi dapat mencapai potensi optimal dan dapat menyusul ketertinggalan Indonesia dalam berbagai bidang.

Solusi untuk mencegah dan mengatasi stunting

1)      Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.

Istilah ”Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

Karena inti masalah dari stunting sebenarnya dari buruknya makanan yang dikonsumsi, Maka dari itu asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh anak harus diperhatikan. Orangtua harus memberikan makanan yang kaya akan protein terutama protein hewani pada anak. Protein anak usia di atas 6-12 bulan membutuhkan 1,2 g/kg dari berat badan. Perhatian orangtua terhadap pola makan anak terutama dibawah usia tiga tahun karena sebenarnya stunting pada anak dibawah usia tiga tahun sulit untuk diperbaiki.

 

2)      Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan. Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

3)      Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Dari berbagai pemaparan tentang stunting di atas, hendaknya orangtua semakin memerhatikan kondisi anak baik dari segi asupan yang diberikan, perilaku anak, maupun pertumbuhan fisik. (FTR)

 

 

           

 

Daftar Pustaka

https://thousanddays.org/the-issue/stunting/ (26 Januari)

https://www.google.com/amp/s/hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/tanda-anak-stunting-adalah/amp/ (26 Januari)

https://www.google.com/amp/s/hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/stunting-adalah-anak-pendek/amp/ (26 Januari)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Utama Riskesdas 2018. Retrieved from http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf (26 Januari)

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kerjasama Kemitraan Multi Sektor. Retrieved from https://www.am2018bali.go.id/UserFiles/kemenkeu/News/Paparan%20Stunting%20Kemenkeu%202018web.pdf (26 Januari)

Stunting Ancaman Bagi Bonus Demografi Indonesia pada 2030. Retrieved from : http://www.tribunnews.com/kesehatan/2018/08/08/stunting-ancaman-bagi-bonus-demografi-indonesia-pada-2030?page=2.(27(27 Januari)

https://www.liputan6.com/health/read/3640739/headline-bahaya-stunting-dan-ancaman-lost-generation-indonesia-harus-berbuat-apa (27 Januari)

http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html (27 Januari)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *