Skip to content

JiMin SNF — Kualitas Pendidikan Indonesia: Semakin Baik atau Buruk?

[ngg src=”galleries” ids=”8″ display=”basic_imagebrowser”]Programme for International Student Assessment (PISA) merupakan sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia[1]. PISA diadakan setiap tiga tahun sekali oleh OECD dengan mengambil sampel siswa umur 15 tahun keatas secara acak di setiap negara. Sekarang, PISA dijadikan standar internasional dalam bidang pendidikan.

Indonesia mulai berpartisipasi dalam PISA sejak pertama kali PISA diadakan yakni pada tahun 2000. Capaian skor PISA Indonesia pada tahun 2015 mengalami peningkatan dari skor PISA periode sebelumnya yakni pada tahun 2012 sebesar 21 poin skor. Menurut catatan OECD, Indonesia tercatat sebagai negara tercepat ke-15 dalam pengembangan sistem pendidikan dari 72 negara yang berpartisipasi[2]. Meskipun mengalami kenaikan, Indonesia masih tertinggal jauh jika dibandingkan negara OECD lain. Berdasarkan PISA 2015, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 72 negara yang disurvei. Kompetensi membaca pelajar Indonesia menurut hasil survei PISA 2015 meraih nilai 397, angka ini jauh di bawah  rata-rata OECD sebesar 493. Demikian pula skor kompetensi matematika hanya 386, tertinggal dari rata-rata OECD sebesar 490. Skor kompetensi sains sebesar 403 juga di bawah rata-rata OECD sebesar 493[3].

Pada PISA 2018, metode serta indikator yang dipakai sama dengan PISA 2015. Namun, pada PISA 2018 OECD berusaha mengubah tes menjadi lebih dari sebuah akademik, melainkan juga melihat kompetensi global, meminta siswa untuk mengutarakan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain dan apa yang mereka pikirkan tentang hidup mereka di masa sekarang dan di masa depan. Selain itu, perbedaanya terletak pada jumlah negara yang mengikuti PISA. Jika tahun 2015 ada 70 negara yang disurvei, maka tahun 2018 bertambah menjadi 79 negara[4]

Hasil PISA 2018 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan pada tiga kompetensi yakni kemampuan membaca, matematika, serta sains. Skor kemampuan membaca Indonesia pada PISA 2018 adalah 371, skor kemampuan matematika adalah 379, dan skor kemampuan sains adalah 396[5]. Penurunan skor Indonesia pada PISA juga harus dikaitkan dengan konteks bahwa sampel yang diambil meningkat cakupannya menjadi 85% anak berusia 15 tahun keatas[6]. Adanya fakta bahwa sampel yang digunakan bertambah, maka hasil PISA pada tahun 2018 lebih menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan. Lantas, apa saja faktor yang menyebabkan skor PISA Indonesia masih rendah? Dan bagaimana cara Indonesia mengatasi rendahnya kualitas Pendidikan Indonesia?

Menurut Laporan OECD pada tahun 2015, skor PISA dapat menjelaskan beberapa fakta. Data tersebut diantaranya adalah menjelaskan kualitas serta keadilan dalam pendidikan dan kondisi policies and practices for successful schools,serta kesejahteraan siswa[7].

Kualitas serta Keadilan dalam Pendidikan

Performa siswa Indonesia dalam hal membaca, matematika, dan sains masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan (Puspendik) Mohamad Abduh menjelaskan beberapa faktor Indonesia masih berada pada urutan bawah dari tes PISA, dibandingkan negara-negara lain. Salah satu faktornya adalah karena pengajar Indonesia tidak membiasakan siswanya mengerjakan soal yang dapat mendorong, menstimulasi, dan menganalisa suatu masalah menggunakan nalar atau disebut High Order Thinking Skill (HOTS)[8]. Selain itu, rendahnya skor Indonesia pada kemampuan membaca disebabkan karena siswa Indonesia terbiasa membaca single text tetapi lemah dalam memahami multiple text[9].

Oleh karena itu, untuk melatih siswa Indonesia mengerjakan HOTS, pemerintah mulai mengimbau kepada para pengajar untuk memberikan siswa soal-soal yang membutuhkan critical thinking. Pada kurikulum 2013 revisi, lebih banyak latihan soal yang HOTS serta memasukan soal HOTS dalam berbagai ujian yang berstandar nasional seperti Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). 

Faktor selanjutnya adalah keadilan dalam pendidikan. Keadilan dalam pendidikan dilatar belakangi oleh kondisi sosial ekonomi siswa. Terdapat perbedaan capaian skor PISA antara siswa yang kurang beruntung secara sosial ekonomi dengan siswa yang beruntung secara sosial ekonomi. Siswa yang kurang beruntung 3 (tiga) kali lebih mungkin tidak mencapai performa yang baik dalam sains dibanding siswa yang beruntung[10]. Jika dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi yang dilihat dalam populasi masyarakat yang dibawah garis kemiskinan nasional, penyebab masih rendahnya skor PISA Indonesia dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam adalah karena populasi masyarakat miskin di Indonesia lebih tinggi dibandingkan di negara Malaysia dan Vietnam [11]. Selain itu, persentase variasi dalam kemampuan sains berdasarkan status sosial ekonomi siswa mengalami peningkatan sebesar 3,5% pada tahun 2015 dibanding pada tahun 2006[12]. Hal tersebut menandakan bahwa terjadi peningkatan perbedaan status sosial ekonomi di kalangan siswa yang menyebabkan bertambahnya variasi kemampuan sains siswa Indonesia atau perbedaan status sosial ekonomi semakin berpengaruh pada kemampuan sains siswa. 

Policies and Practices for Successful Schools

Pada praktiknya di sekolah, learning environment adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada capaian PISA suatu negara. Learning environment adalah suasana lingkungan ketika belajar. Rendahnya capaian PISA Indonesia pada tahun 2018 juga disebabkan karena adanya suasana yang menghambat mereka dalam melakukan pembelajaran sehingga membuat pemahaman siswa juga ikut terhambat. Learning environment yang dapat menghambat pemahaman siswa diantaranya adalah perundungan (bullying) yang terjadi di kalangan siswa Indonesia. Pada PISA 2018, dilaporkan bahwa 41%  siswa Indonesia menjadi korban tindakan intimidasi dalam bentuk apapun setidaknya beberapa kali dalam sebulan[13]. Angka tersebut berada diatas rata-rata negara OECD. hal tersebut menunjukan bahwa kasus perundungan masih menjadi pengganggu learning environment di Indonesia. Hambatan tersebut, pada akhirnya akan membuat efektifitas pembelajaran di sekolah menjadi rendah.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah bisa menekankan kembali pentingnya pendidikan karakter di kalangan siswa Indonesia. Menurut Muhadjir Effendy, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan pintu masuk untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap pendidikan Indonesia[14]. Pendidikan karakter dapat menciptakan learning environment yang mendukung siswa sehingga akan tercapai efektifitas dalam pembelajaran.

Selain learning environment, faktor lain pada aspek ini adalah sumber daya yang terlibat dalam pendidikan. Salah satu sumber daya yang berpengaruh adalah kualitas dan kinerja guru. Kurangnya jumlah guru serta pemerataan jumlah serta kualitas guru di Indonesia juga masih belum setara antara sekolah satu dengan sekolah lain membuat sistem pendidikan Indonesia belum efektif. Oleh karena itu, Indonesia perlu meningkatkan kompetensi guru, membuat program yang efektif untuk meningkatkan kualitas, serta membenahi sistem penempatan guru menjadi lebih adil sesuai kebutuhan sekolah.

Ditemukan fakta pada hasil PISA 2018 yang menyatakan bahwa siswa dengan latar belakang sosial ekonomi yang sama memiliki skor membaca 40 poin lebih tinggi ketika diajar oleh guru yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta  guru-guru di Indonesia tergolong memiliki antusiasme yang tinggi. Antusiasme para guru Indonesia termasuk empat tertinggi setelah Albania, Kosovo, dan Korea[15]. Adanya fakta tersebut dapat dijadikan suatu evaluasi bagi pemerintah untuk merumuskan suatu kebijakan dalam sistem pendidikan Indonesia. Untuk meningkatkan efektifitas pendidikan, pemerintah bisa memasukan unsur TIK dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun, sebelum pemerintah melakukan itu, pemerintah harus terlebih dahulu memberikan arahan dan pelatihan kepada guru agar terampil menggunakan sarana teknologi. Dengan melakukan arahan serta pelatihan kepada guru ditambah dengan antusiasme guru yang tinggi, maka kualitas guru juga akan meningkat. Selain itu, pemerintah juga harus memberikan bantuan tambahan untuk sekolah-sekolah yang kurang beruntung dalam hal ini sekolah yang tidak memiliki fasilitas memadai dalam memfasilitasi siswanya belajar. 

Kesejahteraan Siswa

Kesejahteraan siswa yang dapat memengaruhi skor PISA Indonesia diantaranya adalah performa di sekolah dan kepuasan hidup, kehidupan sosial siswa di sekolah, serta orang tua dan kehidupan di rumah. Pada tahun 2015, Sekitar 64% siswa perempuan dan 47% siswa laki-laki melaporkan bahwa merasa sangat cemas saat akan ujian meskipun mereka siap menghadapi ujian. Kecemasan terkait pekerjaan sekolah berhubungan negatif dengan kinerja di sekolah dan kepuasan hidup siswa. Siswa yang berprestasi hanya sedikit lebih puas di kehidupan mereka daripada siswa yang berprestasi di tingkat rata-rata. PISA 2018 menunjukan bahwa persentase jumlah siswa Indonesia yang puas atas kehidupannya adalah sebesar 70% yang mana angka tersebut berada diatas rata-rata negara OECD lain[16]. Selain itu, perbedaan persentase jumlah  orang tua siswa Indonesia yang berdiskusi dengan guru mengenai perkembangan anak dengan inisiatif sendiri antara siswa pada sekolah yang diuntungkan dengan yang tidak yakni sebesar 22% yang mana angka tersebut adalah terbesar ke- dua setelah Qatar[17]. Berdasarkan angka tersebut, dapat dikatakan bahwa masih terjadi perbedaan besar partisipasi orang tua antara siswa di sekolah antara  siswa pada sekolah yang diuntungkan dengan yang tidak. 

Untuk meningkatkan kesejahteraan siswa Indonesia, sekolah bisa meningkatkan motivasi dan membangun kepercayaan diri siswa. Selain itu, siswa juga perlu mendapat dukungan dari orang tua. Tidak kalah penting dengan lainnya, siswa Indonesia harus makan makanan bergizi dan rajin berolahraga agar sehat. 

Dari penjelasan diatas, kita semua dapat melihat kondisi pendidikan Indonesia yang memnyebabkan skor PISA Indonesia masih dibawah rata-rata negara OECD lainnya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan skor PISA, Indonesia perlu melakukan terobosan kebijakan yang membuat perubahan sistem pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik dan efektif kedepannya. Selain itu, peran orang tua juga memberi pengaruh pada skor PISA. Oleh karena itu, peran orang tua dalam pendidikan diharapkan dapat lebih aktif dari sebelumnya. Diharapkan dengan upaya tersebut, dapat membuat pendidikan Indonesia lebih baik dan lebih efektif sehingga menghasilkan generasi yang mampu bersaing secara global.


Referensi:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/12/peringkat-dan-capaian-pisa-indonesia-mengalami-peningkatan 
https://www.oecd.org/pisa/PISA-2015-Indonesia.pdf
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/30/tingkat-literasi-indonesia-masih-rendah
https://news.detik.com/berita/d-4808601/berdasar-survei-pisa-kualitas-pendidikan-ri-2018-turun-dibanding-2015/2 
https://www.oecd.org/pisa/PISA-results_ENGLISH.png
https://mediaindonesia.com/read/detail/174162-tidak-familiar-dengan-model-soal-alasan-skor-pisa-indonesia-rendah
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia-2018-akses-makin-meluas-saatnya-tingkatkan-kualitas
https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf
https://www.adb.org/id/indonesia/poverty
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/07/penguatan-pendidikan-karakter-jadi-pintu-masuk-pembenahan-pendidikan-nasional
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia-2018-akses-makin-meluas-saatnya-tingkatkan-kualitas

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “JiMin SNF — Kualitas Pendidikan Indonesia: Semakin Baik atau Buruk?”