Skip to content

JiMin Submission SNF – Industri Bimbingan Belajar: Bayangan atau Membayangi Sekolah?

Penulis: Roes Ebara Gikami Lufti (Ilmu Ekonomi UI 2017)

Bagi beberapa siswa, bimbingan belajar (bimbel) luring dan daring menjadi teman dalam memahami materi di sekolah. Les tambahan ini merupakan perwujudan shadow education, yang mengajarkan materi akademik yang meniru apa yang diajarkan di pendidikan formal. Indonesia sendiri menampung 1.866 lembaga bimbel (menurut Sensus Ekonomi 2016), dengan pertumbuhan tahunan dari 2009 sebesar 7,36%1. Meskipun begitu, kesuksesan komersil industri ini dapat menghambat institusi pendidikan dari meningkatkan kualitas dan kesetaraan akses.

Menjamurnya bimbel dimotori oleh keinginan keluarga untuk memberi anak mereka keunggulan tambahan di ujian kunci, sehingga mereka dapat melanjutkan ke pendidikan di lembaga yang berstatus tinggi2. Di Indonesia, bimbel mulai berdiri pada tahun 1970an untuk mempersiapkan siswa SMA yang menghadapi ujian masuk perguruan tinggi sebelum melayani siswa-siswa lainnya pada tahun 1980an3. Persepsi kurang mampunya sekolah dalam melayani kebutuhan pendidikan anak juga berperan dalam mendorong permintaan les tambahan yang lebih individualis. Didanai oleh bangkitnya kelas menengah dengan ukuran keluarga yang mengecil, industri bimbel berkembang dengan beragam aktor, dari perorangan sampai korporasi. Per 2010, BI mengestimasi sekitar 955 ribu siswa mengikuti bimbel. Perkembangan teknologi pun melejitkan ketenaran para “star tutor”, yang mampu meraup jutaan dollar per tahun di pasar AsiaTimur4.

Walau bimbel lebih terpapar terhadap aturan pasar dibanding sekolah, kehadiran shadow education dapat mengurangi efisiensi sistem pendidikan. Bimbel dapat melengkapi sekolah, terutama dalam mempersiapkan ujian PTN5. Namun, bukti empiris, termasuk di Indonesia, belum menemukan bahwa partisipasi dalam les meningkatkan pencapaian akademik6. Lalu, shadow education cenderung fokus ke parameter pencapaian yang sempit, yang mendorong penggunaan jalan pintas dan mengalihkan perhatian dari keahlian non-akademis. Ketika para siswa dan guru (yang merangkap sebagai tutor) mengurangi keaktifan mereka di sekolah sebagai konsekuensi partisipasi di bimbel, shadow education pun membayangi sistem pendidikan formal sebagai ancaman.

Bimbel dapat membantu pelajar yang lambat untuk mengejar ketertinggalan materi, sembari memberi pelajar yang cepat ruang untuk berkembang7. Namun, bagaimana nasib merekayang tidak mampu mengaksesnya? Inovasi teknologi seperti bimbel daring memang menurunkan biaya akses, memvariasikan harga dari puluhan ribu sampai puluhan juta rupiah8. Tetap saja, keluarga yang lebih makmur dapat mengakses les yang lebih banyak dan berkualitas. Kehadiran bimbel juga dapat mendorong korupsi, dimana guru-tutor secara eksklusif memberi tips esensial dalam mengerjakan PR dan ujian di bimbel. Ketidakmerataan akses ini dapat mendorong persepsi kesenjangan sosial, walau bimbel sendiri belum tentu menghasilkan dampak positif terhadap nilai9.

Bimbel yang lahir dari bayangan sekolah berpotensi membayangi usaha meningkatkan efisiensi dan kesetaraan akses sistem pendidikan. Namun, vonis dan tindakan terhadap shadow education memerlukan data dan penelitian yang lebih lanjut, terutama dalam tingkat nasional. Walau bimbel telah diatur oleh UU Sistem Pendidikan Nasional pada 200310,inovasi teknologi dan pertumbuhan akhir-akhir ini memberi esensi bagi pembaharuan regulasi. Pemerintah perlu melindungi keluarga dan siswa dari dampak negatif bimbel, serta menempatkan bimbel sebagai elemen yang melengkapi kapasitas pendidikan formal, alih-alih menguranginya11.

Daftar Pustaka

Adam, A. (2019). Bisnis Bimbel: Dari Paket Rp150 ribu sampai Rp56 juta. Retrieved 26 April 2020, from https://tirto.id/bisnis-bimbel-dari-paket-rp150-ribu-sampai-rp56-juta-dg5K

Bank Indonesia. (2010). POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) KOMODITAS JASA BIMBINGAN BELAJAR. Retrieved from https://www.bi.go.id/id/umkm/kelayakan/pola-pembiayaan/perdagangan/Documents/ffe3421401fd4332beca78a62c41bc99Bimbel.pdf

Bray, M., & Lykins, C. (2012). Shadow education: Private supplementary tutoring and its implications for policy makers in Asia (No. 9). Asian Development Bank.

Purnamasari, D. (2017). Bisnis Industri Pendidikan yang Makin Diminati. Retrieved 26 April 2020, from https://tirto.id/bisnis-industri-pendidikan-yang-makin-diminati-cnRh

Sharma, Y. (2012). Meet the ‘tutor kings and queens’. Retrieved 26 April 2020, from https://www.bbc.com/news/business-20085558

Subkhan, E. Mengapa adanya jasa bimbel bisa sulitkan pemerintah ketahui kualitas pembelajaran yang sebenarnya di sekolah. Retrieved 26 April 2020, from https://almi.or.id/2019/06/26/mengapa-adanya-jasa-bimbel-bisa-sulitkan-pemerintah-ketahui- kualitas-pembelajaran-yang-sebenarnya-di-sekolah/

Zaenudin, A. (2013). Bimbel Seolah Wajib bagi Calon Mahasiswa, Tak Cukupkah Sekolah?. Retrieved 26 April 2020, from https://tirto.id/bimbel-seolah-wajib-bagi-calon-mahasiswa-tak- cukupkah-sekolah-dgbX

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *