Skip to content

“Pentingnya Cita-Cita dalam Perkembangan Anak” dalam Buletin Vol. 5

Hai semua!

Tidak terasa SNF 2017/2018 sudah melaksanakan setengah periode kepengurusannya. Nah, kilas balik kegiatan-kegiatan yang sudah kami lakukan satu semester lalu bisa dikepoin lewat buletin pertama di tahun 2018 ini lho 

Eits, tapi tak hanya itu. Buletin SNF juga memuat informasi tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh SNF selama sisa kepengurusan kami.

Jangan lewatkan juga artikel utama tentang pentingnya cita-cita untuk anak-anak, ya!

Buletin SNF dapat diakses melalui tautan ini Buletin volume 5 – 2018 

Jangan lupa disebarkan, ya!

Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini

Kewirausahaan merupakan hal yang penting diajarkan sejak dini. Kewirausahaan sendiri adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Terdapat perbedaan antara pengusaha dengan wirausaha, jika pegusaha melanjutakan/meneruskan usaha yang sudah ada, wirausaha merupakan pembuat usaha baru dimana menjadi pembuka lapangan kerja untuk orang lain. Di sisi inilah wirausaha sangat dibutuhkan, pada zaman sekarang dan yang akan datang, populasi semakin meningkat, jika masyarakat hanya ingin menjadi pekerja saja, maka akan menimbulkan pengangguran di mana-mana.

Mikaila Ulmer, "Me & the Bees Lemonade" Sumber: entrepreneur.com
Mikaila Ulmer, “Me & the Bees Lemonade” Sumber: entrepreneur.com

Pendidikan kewirausahaan dapat diajarkan dari hal yang paling mendasar yaitu mengajarkan mengenai jiwa kewiraushaan seperti disiplin, mandiri, percaya diri, serta berpikir kreatif. Lembaga pendidikan seperti sekolah dapat menanamkan mental tersebut dengan pembelajaran sehari-hari. Selain itu, sekolah sendiri memiliki pelajaran keterampilan/prakarya.  Hasil prakarya tersebut dapat dijadikan produk untuk di jual oleh para siswa dan siswi, hal ini untuk memperkenalkan siswa/siswi ke dunia usaha.

Selain kontribusi dari lembaga pendidikan seperti sekolah, keluarga juga dapat ikut serta dalam menanamkan jiwa kewirausahaan, contoh yang paling mendasar adalah menyanyakan pendapat sang anak saat  ingin melakukan sesuatu (memilih makanan,  liburan, atau yang lainnya) hal tersebut dapat mendorong anak untuk berani menyatakan pendapat dan percaya dengan dirinya sendiri.

Mengajar Anak Kelas 5 SD: Pahami Psikologisnya, Cara Manajemen Kelas hingga Metode Pembelajaran

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selain usia remaja, usia anak-anak juga merupakan salah satu jenjang usia yang cukup sulit untuk dipahami kondisi psikologisnya, terutama bagi anak dengan usia tanggung atau menjelang remaja, seperti anak kelas 5 dan kelas 6 SD. Lalu bagaimana sebenarnya kondisi psikologis anak pada usia tersebut? Kemudian sebagai orangtua, terutama sebagai seorang pengajar, bagaimana cara kita menghadapi mereka sehingga penyampaian pesan menjadi lebih efektif? Simak artikel berikut ini.

Karakteristik anak pada usia kelas 5 SD dapat dilihat dari sisi psikomotor, kognitif, dan sosioemosional. Dari segi psikomotor umumnya tinggi dan berat badan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Selain itu, umumnya anak perempuan tampil lebih tinggi daripada laki-laki, meskipun pada perkembangan selanjutnya, anak laki-laki akan biasanya akan jauh lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini juga anak-anak akan sangat suka melakukan aktivitas atau olahraga di luar ruangan. Anak pada usia ini sangat aktif dan karenanya, untuk membatasi permintaannya akan aktifitas luar ruang sementara proses belajar mengajar berlangsung, sebagai seorang pengajar hendaknya membuat syarat untuk memenuhi permintaannya. Selanjutnya, anak pada usia ini memiliki daya tahan tubuh dan selera makan yang baik, sehingga orang tua harus berhati-hati dan mengontrol selera makan anak agar anak tidak obesitas. Kemudian, anak pada usia ini, terutama perempuan, biasanya mulai memberi perhatian terhadap body image.
Selanjutnya, dari segi kognitif, tidak seperti anak pada usia sebelumnya, anak kelas 5 SD umumnya sudah mampu menggunakan operasi mental untuk memecahkan masalah konkrit dan mampu mengetahui sebuah objek berdasarkan dimensi. Anak usia ini juga sudah mampu menggunakan bahasa untuk menjelaskan keinginannya dengan lebih jelas dan sudah mampu memahami adanya sebab akibat. Kemudian, anak pada usia ini juga dapat memperhatikan sesuatu dengan durasi yang lebih lama atau dapat terfokus pada satu hal dengan waktu yang lebih lama dan suka bereksperimen. Dari segi pemahaman bahasa, anak kelas 5 SD umumnya sudah memahami bahwa satu kata dapat memiliki lebih dari satu makna, dan sudah mampu mempelajari bahasa lain. Struktur kalimat juga menjadi lebih kompleks dan sudah ada kemampuan untuk mengelaborasi. Selain itu, anak pada usia kelas 5 SD juga sudah memiliki keterampilan dalam percakapan serta keterampilan naratif yang lebih baik dibandingkan anak pada usia sebelumnya.
Karakteristik lainnya adalah segi sosioemosional. Pada usia ini biasanya anak sudah mampu mengolah dan menghasilkan dan ketika mereka merasa mampu terbentuk self esteem atau harga diri bagi dirinya. Rasa bangga sendiri umumnya sudah diperoleh pada usia tujuh atau delapan tahun bersamaan dengan munculnya rasa malu. Selanjutnya, anak pada usia kelas 5 SD juga sudah mampu memahami perasaan diri sendiri dan orang lain atau dengan kata lain mereka mulai belajar berempati. Kemudian, anak pada usia ini sudah dapat menyatakan tentang emosi-emosi yang bertentangan dan mulai mampu mengekspresikannya. Dari segi kecerdasan emosional juga, mereka sudah lebih baik karena dapat mengatur emosinya dan melibatkan kontrol yang disadari untuk mengaturnya.
Dari uraian di atas, ada beberapa tips untuk mengajar anak kelas 5 SD, di antaranya adalah penyampaian materi yang sebaiknya lebih konkrit dan akan lebih baik apabila disertakan dengan alat bantu. Bahkan, contoh sebaiknya dapat diambil dari hal sehari-hari agar anak lebih mudah memahami. Selanjutnya, tidak lupa ajak anak agar dapat melakukan praktik langsung dari materi yang diajarkan. Yang terpenting juga agar anak tidak merasa bosan adalah sajian penyampaian materi sebaiknya menarik dan menyenangkan dan disampaikan denga bersemangat, sehingga anak juga tidak ikut menurun semangat belajarnya. Dan tidak lupa, anak pada usia ini juga harus sudah mulai dibentuk pola perilakunya, karena lingkungan sekolah juga sangat berpengaruh bagi pembentukan sikap anak. Ini dapat dimulai dari hal sederhana seperti menekankan pada anak tentang ‘tiga kata ajaib’ yaitu “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Hal ini akan  membuat anak lebih menyadari tentang posisinya sebagai seorang makhluk sosial yang selalu memerlukan orang lain dan pada perkembangannya dapat menurunkan keegoisan pada diri anak.
Kemudian, bagaimana jika anak-anak pada usia ini berkumpul di dalam satu kelas dan strategi apa yang harus kita lakukan sebagai seorang pengajar? Jawabannya terletak pada kepandaian dalam manajemen kelas. Manajemen kelas merupakan penitikberatan pada usaha mengarahkan siswa membentuk disiplin diri demi kemajuan studinya sehingga terbentuk self regulating learning yang merupakan kontrol internal dari diri siswa itu sendiri. Untuk melakukan manajemen kelas, diperlukan “manajer” yaitu guru atau tenaga pendidik yang handal untuk mendesain lingkungan belajar yang optimal. Beberapa strategi utama dalam melakukan manajemen kelas yang dapat diterapkan di antaranya adalah sebagai pengajar sebaiknya mengemukakan harapan dan perilaku yang akan dikembangkan pada siswa agar mereka mengerti apa yang akan diperoleh, seperti harapan-harapan dari pelaksanaan pengajaran dan sistem pembelajaran yang berlaku. Kemudian, sebagai pengajar, hendaknya membangun first impression atau kesan pertama yang baik, karena kesan pertama adalah hal yang akan menempel pada ingatan anak-anak. Selanjutnya, pengajar juga harus membangun peran dan keberadaannya sebagai pengajar dengan jelas. Selain itu, pengajar juga harus bisa mengajak siswa agar kooperatif dalam belajar dan harus menunjukkan tanggungjawab untuk memajukan kelas dengan menunjukkan “Do and Don’t’s” dan menerangkan serta menerapkannya secara keseluruhan. Di dalam kelas juga biasanya terdapat anak yang kemampuan pemahaman materinya berbeda, dan untuk dapat melakukan manajemen kelas yang baik, pengajar harus memahami cara menangani anak dengan gaya belajar berbeda. Untuk mempertahankan atensi anak di dalam kelas dan membangun semangatnya juga, pengajar dapat menggunakan media seperti tepukan, gerakan, dan nyanyian. Terakhir, jangan lupa tentang metode pembelajaran. Karena metode pembelajaran yang menarik adalah hal yang baik untuk mempertahankan atensi siswa terutama anak pada usia-usia tertentu. Beberapa metode pembelajaran yang menarik yang bisa diterapkan di dalam kelas di antaranya adalah metode sosiodrama yaitu metode pembelajaran dengan menggunakan peran-peran tertentu dalam belajar-mengajar. Kemudian metode wayang yaitu metode pembelajaran yang menggunakan media seperti puppets atau tokoh-tokoh wayang untuk memainkan peran-peran tertentu terkait dengan pembelajaran. Dan yang terakhir adalah metode simulasi, yaitu metode di mana anak-anak diajak untuk melakukan simulasi terkait materi yang telah diajarkan.

 

Sumber: Notulensi Materi Training Votea 27 Februari 2016 oleh Kak Sulfani Nur Mawaddah dan Kak Riri Marjani Qalbi (mahasiswa Psikologi UI 2012)