Skip to content

[JiMin SNF: The Voice of Middle Child: Am I Unworthy Enough?]

[JiMin SNF: The Voice of Middle Child: Am I Unworthy Enough?]

A few months ago, there was a trend on the TikTok platform that was allegedly voicing the heart of a middle child who often feels neglected and unworthy within their family. These kinds of video trends are known as middle child syndrome. It refers to the belief that middle children tend to be ignored and almost completely forgotten. Then is it a real thing? Does it affect their personality in their adulthood? Is it possible to consider it as a piece of bad luck? What is the best advice we can take from parent and second child perspectives?

Check out our JiMin article for more info!
bit.ly/MediumSNFMiddleChild
bit.ly/KompasianaSNFMiddleChild
.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm

SNFWeCare



[JiMin SNF: From Communism to Capitalism, Reveal the Role of Government in Child Development]

When it comes to child development, the one party who is often considered the most influential is the parents. The statement is not wrong, but it is wiser to take into account other parties, one of which is the government. Whether we realize it or not, the government has a significant role in the development of children, starting from guaranteeing their legal rights, ensuring the welfare of children, to creating ideal conditions for child development. Questions arise regarding this case. What is the role of government on children? What system of government is best for child development? What efforts should be made by the government to maximize child development?

However, given the fact that not every country has the same system of government, discussion about the impact of each system on children or the best system for child development become inevitable. Of course, all systems have their effects, but the comparison between two opposing systems, such as communism and capitalism, is interesting to discuss.

Furthermore, on this occasion, we will explore more deeply related to the role of government in child development, starting from its relationship, comparison of government systems, and policy recommendations for the government.

Check out our JiMin article for more info!
Bit.ly/KompasianaSNFGovernmentRoleOnChildren
Bit.ly/MediumSNFGovernmentRoleOnChildren

.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm

SNFWeCare

[JiMin SNF: Personality and Parenting: Is Enneagram Still Relevant to This?]

[JiMin SNF: Personality and Parenting: Is Enneagram Still Relevant to This?]

Life as a parent is quite challenging, especially when it comes to caring of their children. The reason is that parenting styles have an impact on children’s growth and development. When it comes to choosing the best path for their children, parents should be imaginative and cautious. Their educational patterns are frequently integrated with a variety of other approaches, one of which is a personality approach.

The Enneagram of Personality is the most well-known personality approach utilized by parents around the world. But, in reality, what is it? Is it genuine and effective?

Read More on :
bit.ly/KompasianaJiMinSNFEnneagram
bit.ly/MediumSNFEnneagram

.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm

SNFWeCare



[JiMin SNF: Digitalize Our Mind: One “Like” from The Societal Era]

[JiMin SNF: Digitalize Our Mind: One “Like” from The Societal Era]

As the world changes, technology becomes more involved in our life. Dozens of people from across ages are using social media for a good purpose, at first. Life has indeed become a lot easier with the “tools” that we stare at every day, but we have become more consumed and then snap! We realize that we can’t live without it. Moreover, the younger generation has started using this at a very little age, is that normal or we are the ones that normalized it?

The anxiety, confusedness, fear of missing out, and all of the negativity can consume us as we use our social media more often. Seems not like a big problem, but it changes our minds and heart, both physically and mentally. A documentary called “The Social Dilemma” has also highlighted this kind of risk, a danger to the newer generation if we keep repeating the same thing. Then, what is the truth behind this digital age? How did it become a threat and what we can do now?

Check out our JiMin article for more info!
Bit.ly/KompasianaSNFDigitalizeOurMind
Bit.ly/MediumSNFDigitalizeOurMind

.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm
#SNFWeCare

[JiMin SNF : Gifted Kid Burnout : Risiko Pemberian Label Gifted Terhadap Anak]

Beberapa waktu yang lalu terdapat tren dari aplikasi TikTok yang bernamakan tren “gifted kid burnout”. Istilah ini merupakan fenomena dimana anak yang dahulunya dilabelkan sebagai gifted kid, mulai merasa lelah dan kehilangan motivasi. Tak hanya burnout, pemberian label tersebut ternyata menuai banyak permasalahan mental lainnya bagi tumbuh kembang sang anak.

Lantas, apa saja permasalahan yang diakibatkan oleh pemberian label gifted kid terhadap anak?

Simak kelanjutannya di Kajian Mini SNF pada link berikut!

Bit.ly/KajianMiniSNFGiftedKidBurnout

.⁣
.⁣
.⁣

Instagram: @snf.febui⁣
LINE: @snf.febui⁣
Twitter: @snf_febui⁣
Tiktok: @snf.febui⁣
Website: snf-febui.com⁣
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI⁣
Facebook: SNF FEB UI⁣

SNF FEB UI | 2021-2022⁣
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm⁣

SNFWeCare

[JiMin SNF : Toxic Masculinity dalam Parenting, Kudapan Rumah yang Tak Kunjung Musnah]

[JiMin SNF : Toxic Masculinity dalam Parenting, Kudapan Rumah yang Tak Kunjung Musnah]

Dalam beberapa tahun belakangan ini, timbul berbagai desakan yang menentang gagasan tradisional tentang maskulinitas. Gagasan yang kemudian dikenal sebagai toxic masculinity itu dirasa berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif kepada laki-laki.

Ironisnya, gagasan tersebut seringkali dibudayakan dalam proses parenting. Bagaimana bentuk toxic masculinity dalam parenting? Apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya?

Simak kelanjutannya di JiMin SNF berikut!

Bit.ly/KajianMiniSNFToxicMasculinityParenting
.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm

SNFWeCare

[Call for Article : JiMin Submission]

Hai para agen perubahan!
JiMin Submission kini kembali untuk mewadahi gagasan-gagasan kalian seputar dunia pendidikan dan anak-anak dalam bentuk artikel Kajian Mini. Kali ini dengan tema yang tidak kalah menarik, yaitu Child Labour.

Periode pengumpulan dimulai dari hari ini hingga paling lambat Kamis, 18 November 2021.

Kirimkan artikel kalian sekarang dan menangkan juga hadiah berupa uang tunai untuk 3 orang pemenang! Selain itu, artikel kalian akan dimuat pada buletin SNF Edisi 2022 serta website SNF FEB UI, lho!

Jadi, tunggu apalagi? Segera daftar dan berkayalah!

Syarat dan ketentuan dapat diakses pada bit.ly/JiMinSubmissionSNF5

Media Partner :
@infomenulis

CP :
Eno (eno_line / 082298247571)
Nabila (nabiilaafn / 081466714292)

.
.
.

Instagram: @snf.febui
LINE: @snf.febui
Twitter: @snf_febui
Tiktok: @snf.febui
Website: snf-febui.com
Youtube: Sekolah Non Formal FEB UI
Facebook: SNF FEB UI

SNF FEB UI | 2021-2022
Learning, Humanism, Family, Enthusiasm

#SNFWeCare

[JIMIN SNF: Ramai-Ramai Startup Pendidikan (EdTech), Benarkah Membantu atau Tren Semata?]

Penulis: Patricia Putri Art Syana| EIE’20

Seberapa sering kamu menjumpai iklan startup pendidikan di televisi nasional? Atau melihat beragam poster startup pendidikan yang menampilkan artis/influencer kegemaranmu di sosial media? Tak hanya di Indonesia, startup pendidikan atau yang biasa dikenal dengan istilah startup EdTech, nyatanya marak muncul di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, market size dari startup EdTech per 2019 diyakini mencapai 112 miliar USD atau setara Rp1,5 triliun serta diprediksi tumbuh sebesar 24,9% per tahun [1]. Situasi pandemi meningkatkan permintaan akan sektor EdTech, dibuktikan dengan naiknya jumlah pengguna sebesar 200% dari keadaan sebelum pandemi [2].

Kemunculan berbagai startup pendidikan menimbulkan pertanyaan penting, apakah startup EdTech akan menjadi sektor startup potensial yang diincar karena tren semata atau justru dapat berkontribusi bagi pembangunan pendidikan Indonesia? Apakah ada gap yang dapat diperbaiki dan diantisipasi dari perkembangan startup pendidikan ini?

Apa itu Startup EdTech?

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang startup EdTech, rasanya kita perlu menelisik lebih dalam apa itu startup EdTech dan apa saja contohnya di Indonesia. Startup EdTech atau EdTech merupakan platform pendidikan berbasis teknologi, yang mencakup pelatihan hard skill maupun soft skill. Jenis EdTech beragam, yakni e-learning, Learning Management System (LMS), Software as a Services (SaaS), dan Massive Open Online Courses (MOOC). EdTech di Indonesia juga merambah ke berbagai sektor, mulai dari anak-anak hingga upaya peningkatan keterampilan para pencari kerja. Namun, artikel kali ini hanya akan berfokus pada startup EdTech dengan sektor jasa yang berhubungan langsung dengan anak-anak sekolah/K-12 (SD-SMP-SMA), seperti Zenius, Ruangguru, Mejakita, dan lainnya.

Startup di Indonesia sendiri sedang hype dan digandrungi berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga tokoh-tokoh senior. Dilansir dari Kominfo (Komunikasi dan Informasi), startup Indonesia masih mendominasi startup di Asia Tenggara dan peringkat ke-5 dunia, setelah AS, India, Inggris, dan Kanada [3].

Tersedianya market yang potensial, dengan ditandai oleh meningkatnya jumlah pelajar indonesia sebagaimana ditunjukkan dalam tabel diatas, membuat startup sektor EdTech ini terkesan atraktif bagi para perintis startup, khususnya dengan minat dalam bidang pendidikan. Keberadaan startup EdTech juga diyakini bertumbuh seiring adanya faktor pandemi yang memaksa pelajar Indonesia untuk belajar secara mandiri di rumah masing-masing. Situasi ini menandakan adanya inovasi baru dalam pengembangan pendidikan Indonesia. Banyaknya pesaing seharusnya berkorelasi positif dengan meningkatnya kualitas tiap startup Edtech tersebut. Namun, satu hal yang menarik perhatian, seiring dengan peningkatan jumlah startup EdTech di Indonesia, apakah startup yang ada benar-benar bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan Indonesia atau justru hanya tren semata?

Permasalahan Startup EdTech

Tahun 2015/2016 dapat dikatakan sebagai masa-masa jayanya startup EdTech yang ditandai dengan popularitas beberapa startup EdTech dikalangan pelajar. Meningkatnya popularitas beberapa startup EdTech yang ada pada masa itu, ditambah perasaan Fear Of Missing Out (FOMO) dari pelajar Indonesia menjelang Ujian Nasional, meningkatkan rasa penasaran saya untuk akhirnya mencoba berlangganan di beberapa startup. Tidak jarang juga dapat ditemui teman-teman saya yang mengikuti bimbel konvensional ditambah dengan berlangganan startup EdTech. Tanpa disadari, pola ini memperlihatkan kembali adanya ketimpangan dalam pendidikan, dimana pelajar dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah tidak mendapat privillege seperti pelajar dari kalangan mampu yang dapat memilih bimbel konvensional dan berlanggan startup EdTech sekaligus.

Terkait harga, kebanyakan startup EdTech memang mematok harga bimbel yang relatif lebih rendah daripada bimbel-bimbel konvensional. Bahkan, seiring berjalannya waktu, terdapat startup EdTech gratis . Sekilas, hal ini rasanya memberikan secercah harapan, khususnya bagi para pelajar yang tidak memiliki kondisi finansial yang cukup untuk membayar bimbingan belajar konvensional. Namun, jika kita melihat secara mendalam, terdapat permasalahan lain yang luput dari pembicaraan. Inovasi-inovasi yang diberikan rasanya kurang cukup jika tak diimbangi dengan akses pelajar pada internet dan gadget yang memadai [4]. Meskipun, baru-baru ini, pemerintah dengan programnya berupa subsidi kuota telah berupaya menyukseskan pembelajaran digital. Namun, beberapa kritik bermunculan akan adanya inefisiensi dan ketidakmerataan pemberian subsidi kuota [5].

Selain itu, tingginya pesaing dalam sektor startup EdTech justru dapat membuat beberapa startup terkesan mengedepankan kuantitas dibandingkan dengan kualitas. Semakin banyak soal, semakin banyak video-video pembelajarannya dengan modul yang beragam, padahal materi yang ada hanya sebagai salinan dari textbook atau pertanyaan-pertanyaan yang dapat dicari pada kolom pencarian semata. Kesejahteraan guru atau pembuat soal juga dipertanyakan karena adanya faktor risiko dari pekerjaan freelancer, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki kontrak jelas dengan pegawainya. Beberapa bulan yang lalu, sempat ramai di media terkait protes upah yang rendah dari suatu startup ternama [6]. Pada akhirnya, kualitas pun tampaknya kurang menjadi fokus utama bagi beberapa startup EdTech akibat berlomba-lomba dalam bersaing di pasar pelajar ini, terutama pada fase-fase “ramai” menjelang Ujian Sekolah maupun Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK). Masing-masing startup ini, berlomba-lomba mengadakan try out dengan pembahasan yang sebanyak-banyaknya. Poster-poster try out mulai bersebaran dengan masing-masing startup yang mempromosikan “keunggulannya”.

[JIMIN SNF: DESAKAN VAKSIN DAN IMUNISASI UNTUK ANAK]

Penulis: Christabel N. | EAK 2020

Semua orang tua menginginkan anaknya untuk hidup sehat. Anak-anak diharapkan dapat bertumbuh dengan fisik yang tangguh, kuat, dan tahan terhadap penyakit. Untuk terciptanya anak-anak yang tahan terhadap penyakit tersebut, anak-anak harus diberi imunisasi dengan disuntik vaksin. Imunisasi dan vaksin sendiri merupakan dua hal yang berbeda. Vaksinasi adalah kondisi tubuh mendapatkan suntikan vaksin atau obat vaksin oral dengan tujuan meningkatkan imun tubuh dalam menangkal sebuah penyakit. Sedangkan, imunisasi adalah proses panjang tubuh dalam membentuk antibodi agar bisa kebal terhadap suatu penyakit. Kedua hal ini menjadi sesuatu yang paling dicari, terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang.

Berbagai upaya penelitian difokuskan pada pengembangan vaksin yang efektif untuk memerangi COVID-19. Pengembangan vaksin itu sendiri, bagaimanapun, tidak akan pernah berhenti mengingat jumlah varian baru terus bermunculan. Di sisi lain, keragu-raguan mulai merayapi banyak orang dengan lahirnya jenis vaksin yang telah bervariasi di berbagai negara. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga 5 Juli 2021, telah terdapat 140.877 kasus COVID-19 pada anak dan 556 diantaranya meninggal dunia [1]. Tidak berhenti sampai di sini, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan bahwa kasus konfirmasi positif COVID-19 pada anak telah mengalami peningkatan sebesar dua persen dibandingkan bulan Juli 2021 [2]

Melihat kasus infeksi virus yang sedikit demi sedikit mengalami peningkatan pada anak-anak, pemberian vaksin pun mulai segera dijalankan. Meskipun gejala yang dialami anak-anak biasanya ringan, tetapi bisa juga berakibat fatal. Maka dari itu, untuk menurunkan risiko anak terinfeksi virus COVID-19 dan memutus mata rantai penularan, pemerintah Provinsi DKI Jakarta berusaha menggencarkan vaksinasi untuk anak berusia 12-17 tahun. Apalagi, sebagian besar lembaga penelitian dan produsen vaksin telah berlomba-lomba untuk mempercepat uji klinis vaksin COVID-19.

Dilema Vaksin di Tengah Masyarakat 

Infeksi COVID-19 telah dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia sebagai “pandemi” karena telah menyebar ke lebih dari 114 negara. Hal ini membuat banyak penelitian berfokus kepada pengembangan vaksin yang efektif untuk memerangi penyakit COVID-19. Dalam waktu yang terbilang singkat, beberapa jenis vaksin pun akhirnya muncul dan membuat banyak kalangan merasa skeptis karena belum mempercayai vaksin yang ada sepenuhnya, tidak terkecuali para orang tua. Keragu-raguan dan minimnya informasi yang sampai ke masyarakat menjadi hambatan besar dalam proses persebaran vaksin yang bisa dibilang menjadi terobosan dalam dunia kesehatan. Melalui studi tentang potensi penerimaan vaksin COVID-19 pada 13.426 orang yang dipilih secara acak di 19 negara yang sebagian besarnya memiliki beban COVID-19 yang tinggi, ditemukan bahwa 71,5% dari mereka akan mengambil vaksin jika terbukti aman dan efektif, sedangkan 48,1% mengatakan bahwa mereka akan divaksinasi jika lingkungan dekat mereka merekomendasikannya [3]

Sentimen Vaksin COVID-19 pada Anak

Pengujian vaksin sedang dilakukan, tetapi dengan berbagai alasan, anak-anak belum dilibatkan dalam proses pengujian vaksin [4]. Alasan yang pertama, pertimbangan risiko COVID-19 pada anak. Orang dewasa memang lebih rentan terinfeksi virus corona daripada anak-anak. Gejala atau komplikasi COVID-19 yang dialami orang dewasa pun umumnya lebih parah. Namun, bukan berarti anak-anak bisa kebal terhadap paparan virus ini. Anak-anak juga berisiko terinfeksi dan bahkan bisa mengalami komplikasi serius akibat COVID-19. Lebih lanjutnya, sistem kekebalan tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini membuat dosis pemberian vaksin COVID-19 untuk anak-anak tidak bisa disamakan dengan dosis vaksin untuk orang dewasa.

Selain itu, kondisi anak yang masih berada dalam proses pertumbuhan membuat anak-anak belum dapat memberikan keputusan sendiri. Oleh karena itu, diperlukan izin dan persetujuan dari orang tua apabila peneliti ingin melakukan uji coba vaksin pada anak. Yang terakhir, pihak peneliti juga ingin memastikan bahwa vaksin COVID-19 yang diberikan kepada orang dewasa memang efektif dan aman sebelum disuntikkan kepada anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan studi dan data yang lebih banyak lagi untuk memulai proses penelitian dan pengujian vaksin COVID-19 untuk anak-anak.

Perusahaan pertama yang melibatkan anak-anak usia 12–15 tahun pada uji coba vaksin COVID-19 adalah Pfizer pada September 2020. Tak hanya Pfizer, Moderna juga telah melakukan tes vaksin COVID-19 pada anak-anak usia 12–17 tahun. Saat ini, pemerintah melalui BPOM telah menyetujui Emergency Use Authorization (EUA) atau penggunaan dalam kondisi darurat vaksin CoronaVac pada anak usia 12–17 tahun dengan mengikuti panduan vaksinasi. Vaksin ini merupakan vaksin milik Sinovac. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksin COVID-19 bagi anak-anak di bawah usia 12 tahun sebelum vaksin ini bisa digunakan secara luas.

Efektivitas Vaksin untuk Anak di Kala Pandemi

Vaksin  yang  aman  adalah  solusi  jangka  panjang  untuk mengatasi pandemi  COVID-19. Namun,  ketersediaan  vaksin  saja  tidak cukup untuk menjamin perlindungan imun yang luas karena vaksin juga harus dapat diterima baik oleh komunitas kesehatan maupun masyarakat umum. Keefektifan vaksin untuk anak yang masih dipertanyakan, memunculkan kesalahpahaman baru, diantara kesalahpahaman  yang  paling  umum  adalah  bahwa  manfaat  vaksinasi  tidak  lebih besar  daripada  risikonya dan  bahwa  kekebalan  yang  diperoleh  dari  bertahannya suatu penyakit lebih unggul daripada kekebalan dari vaksinasi. Padahal, kekhawatiran  tentang  perlunya  vaksin  COVID-19  dapat  dikurangi  dengan menunjukkan tingginya angka morbiditas (persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan) dan mortalitas (ukuran kematian) yang terkait dengan penyakit [5].

Pada dasarnya, terlepas dari kelompok usia yang divaksin, vaksin memang memegang peranan penting untuk membangun imunitas tubuh seseorang terhadap virus. Dalam vaksin, terdapat antigen yang merupakan komponen kecil yang sudah dimatikan dan tidak berbahaya dari suatu organisme penyebab penyakit. Antigen yang disuntikkan melalui vaksin akan membentuk antibodi. Antibodi inilah yang akan melatih sistem imun tubuh kita untuk mengenali virus yang masuk. Dengan demikian, tubuh kita pun memiliki sistem pertahanan untuk melawan virus Corona dan tidak rentan sakit. Secara jangka panjang, penyuntikan vaksin juga akan membentuk herd immunity. Semakin banyak orang yang divaksin, maka semakin banyak orang yang kebal terhadap virus. Dengan begitu, angka penularan akan menurun sehingga lebih banyak orang bisa terhindar dari virus COVID-19, termasuk mereka yang tidak bisa divaksinasi karena kondisi kesehatan. 

Tembok Penghalang Imunisasi Anak

Pandemi COVID-19 secara global sangat berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan, khususnya di Indonesia, terutama pelayanan kesehatan dasar termasuk imunisasi. Angka cakupan imunisasi rutin dasar dan lanjutan di berbagai daerah di Indonesia telah mengalami penurunan. Beban penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Indonesia masih sangat tinggi sehingga pelayanan imunisasi menjadi sangat penting terutama di masa pandemi. Perubahan yang signifikan pada layanan imunisasi, bahkan untuk waktu yang singkat, akan mengakibatkan peningkatan jumlah individu yang rentan dan meningkatkan kemungkinan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Hal ini dapat berdampak pada layanan kesehatan dan menjadi beban ganda apabila terjadi outbreak atau kejadian luar biasa.

Secara kumulatif, layanan imunisasi terganggu kurang lebih di 90% posyandu dan 65% puskesmas [6]. Gangguan terhadap layanan imunisasi disebabkan oleh berbagai alasan, seperti kurangnya pemahaman terhadap panduan Kemenkes, besarnya risiko penularan COVID-19 di wilayah puskesmas, kurangnya dana akibat pengalihan dukungan ke rencana respon pandemi, terbatasnya jumlah vaksinator berpengalaman yang dialihtugaskan untuk menangani pandemi COVID-19, gangguan transportasi akibat pembatasan perjalanan, dan penutupan sekolah. Data cakupan imunisasi pada bulan Januari sampai dengan April 2020 dibandingkan dengan 2019 pada kurun waktu yang sama menunjukkan penurunan mulai 0,5% sampai dengan 87% [7].

Menanggapi rekomendasi WHO dan respon terhadap penurunan angka cakupan imunisasi pada bayi dan anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebagai organisasi profesi juga mengeluarkan panduan pelayanan imunisasi, antara lain  adalah pentingnya imunisasi dasar bagi bayi dan anak sampai umur 18 bulan untuk melindungi dari penyakit berbahaya lain yang telah berjalan selama ini. Selain itu, banyaknya bayi dan balita yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap dapat menyebabkan berbagai wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan banyak anak sakit berat, cacat, atau meninggal. Oleh karena itu, layanan imunisasi dasar harus tetap diberikan di Puskesmas, praktik pribadi dokter, atau rumah sakit sesuai jadwal. Dengan adanya beban penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi masih tinggi, layanan imunisasi tetap dan harus dilakukan sesuai rekomendasi dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

Penentu Masa Depan Anak

Dengan rasa penasaran dan jiwa bebas yang tinggi, anak-anak menjadi lebih sulit mengontrol diri. Bukan tidak mungkin, mereka justru akan lebih mudah terpapar oleh virus. Terlebih lagi, akhir-akhir ini muncul varian baru Delta yang rentan menyerang kelompok usia anak [8].  Oleh sebab itu, melakukan vaksinasi dan imunisasi pada anak merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi mereka dari serangan kasat mata. Meskipun belum terdapat penelitian atau pemberitahuan lebih lanjut terkait kebijakan vaksin yang pasti untuk anak, orang tua bisa melakukan pencegahan dengan selalu menerapkan protokol kesehatan serta mengingatkan anak untuk menerapkannya juga. Selain itu, sebisa mungkin hindari membawa anak bepergian ke luar rumah. Vaksinasi memang penting agar anak-anak maupun orang dewasa dapat terlindung dari COVID-19, tetapi mematuhi protokol kesehatan juga sama pentingnya. Sudah divaksin tidak menjamin anak tidak tertular ataupun menularkan virus Corona. Untuk itu, tetap patuhi 5M yang terdiri dari : Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, dan Mengurangi mobilitas. 

Referensi

[JiMin Submission SNF – Mendisiplinkan Anak: Sudahi Kekerasan Verbalmu, Mari Lebih Peduli Kesehatan Mental Anakmu]

Penulis: Muhammad Ramadhani | EIEI 2020

Sudah satu tahun lebih pandemi hidup berdampingan dengan manusia. Bahkan sampai saat ini,  mayoritas sekolah atau universitas di Indonesia masih memberlakukan Pembelajaran Jarak  Jauh (PJJ). Anak dan orang tua sama-sama lelah dan kondisi mental mereka mengkhawatirkan  dengan situasi yang tidak mengenakkan seperti sekarang ini. Tidak jarang orang tua akan  berperilaku lebih sensitif selama pandemi, seperti membentak hingga bertindak kekerasan verbal lainnya jika anak-anak mereka berbuat salah atau tidak seperti yang mereka inginkan. Berdasarkan survei KPAI tahun 2013 pemicu terjadinya kekerasan verbal antara lain, seperti  kekerasan dalam rumah tangga, disfungsi keluarga, dan faktor ekonomi.

Dilansir melalui merdeka.com, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan  Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI, Fidiansjah menyebutkan bahwa 62% anak  Indonesia mengalami kekerasan verbal selama Pandemi. Hal tersebut menandakan tingginya  kekerasan verbal yang dialami anak selama pandemi Covid-19.  

Tindakan seperti Apa yang Termasuk Kekerasan Verbal ? 

Mayoritas orang tua tidak sadar bahwa tindakan mereka termasuk dalam kekerasan terhadap  anak. Ditambah lagi, peranan orang tua sebagai pengasuh –memberi pelajaran positif atau  negatiff yang membentuk karakter anak—memiliki pola masing-masing yang dipilih orang tua  untuk anak mereka. Ada yang memilih untuk bersifat otoriter, permisif, dan demokratis dalam  mendisiplinkan atau menanamkan moral kepada anak mereka. Dalam proses pengasuhan,  terkadang orang tua tidak sadar bahwa tindakan mereka bisa berdampak buruk bagi  perkembangan anak. 

Salah satu hal penyebab kebanyakan orang tua berlaku demikian dikarenakan ketidaksadaran  dan ketidaktahuan saat mengeluarkan emosi yang negatif mereka kepada anaknya. Hal tersebut  dapat berpotensi terjadinya kekerasan verbal, seperti:  

1. Melakukan tindakan intimidasi (berteriak, menganjam, dan menggertak anak);

2. Mengecilkan atau mempermalukan anak (mengatakan kalimat yang merendahkan dan  mencela anak); 

3. Menunjukkan sifat dingin (memberi respon yang dingin atau tidak peduli sama sekali  kepada anak); dan 

4. Memberikan sebutan tidak pantas kepada anak.

Selain hal tersebut, orang tua melakukan kekerasan verbal kerap kali memiliki pandangan  keliru terhadap posisi anak dalam keluarga. Anak dianggap sebagai orang yang tidak  mengetahui apa-apa. Akibatnya, orang tua cenderung memarahi/mmenghaikimi anak tanpa  mengetahui alasan, stiuasi, dan kondisi yang dialami oleh anak. 

Dampak Psikologis Anak jika Sering Menerima Kekerasan Verbal 

Jika anak mereka berbuat kesalahan, maka orang tua cenderung merespon dengan tindakan  negatif. Akan tetapi, sikap ini semestinya tidak dilakukan terus-menerus karena ada banyak  sekali dampak negatif yang berujung kepada kesehatan mental sang anak, baik di masa  kecilnya (proses pertumbuhan) atau saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Sepakat dengan  pernyataan sebelumnya, beberapa sumber terpecaya, seperti sehatq.com, halodoc.com, dan  jurnal-jurnal relevan menyatakan dampak negatif jika anak sering mendapat kekerasan verbal. 

Terdapat empat dampak negatif diantaranya: 

1. Anak menjadi lebih agresif 

Perilaku membentak dapat ditiru oleh anak. Akibatnya mereka akan lebih agresif dan  meniru perilaku buruk yang dilakukan oleh orang tua mereka. Hal ini berdasarkan  sebuah riset yang dilakukan di enam negara dan ditemukan ekspresi amarah membuat  anak-anak takut dan merasa tidak aman. Sikap tersebut dapat menggangu perilaku anak baik secara fisik maupun verbal 

2. Memperburuk perilaku anak 

Keseringan membentak dapat membuat anak menjadi apatis, tertutup, tidak percaya diri  dan berpotensi menjadi trauma bagi si anak. 

3. Mengubah perkembangan otak 

Uji coba dengan pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang dilakukan oleh  para ahli, ditemukan perbedaan yang signifikan di bagian otak yang bertanggung jawab  untuk memproses suara dan bahasa. Artinya, bentakan dapat mengubah perkembangan  otak anak-anak karena manusia cenderung memproses informasi negatif dibandingkan  positif. 

4. Menyebabkan anak depresi dan mengancam kesehatan fisikmya  

Perilaku membentak memungkinkan terjadinya kekerasan verbal yang mana dapat  mempengaruhi kesehatan psikologis dan fisik anak. Sebuah jurnal kesehatan dengan judul “The Long-Term Health Consequences of Child Physical Abuse, Emotional  Abuse, and Neglect: A Systematic Review and Meta-Analysis” menemukan adanya  hubungan antara kekerasan emosional dan depresi/gangguan kecemasan. Kemudian,  stress dan depresi juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik anak-anak. Hasil riset  menunjukkan bahwa stress akan mendorong dampak buruk kesehatan fisik anak-anak  ke depannya. 

Kekerasan Verbal Sudah Tidak Relevan dengan Kedispilinan Seorang anak 

Terkadang bagi orang tua menganggap membentak, memarahi, dan perilaku tindak kekerasan  verbal lainnya merupakan teguran (punishment) terhadap perlakuan anak mereka yang  dianngap salah bagi mereka (orang tua). Namun, menimbang banyaknya dampak yang akan  dialami anak akibat kekerasan verbal, rasanya para orang tua sudah saatnya menyudahi emosi emosi negatif yang biasa mereka lakukan untuk mendisiplikan anak mereka. Pasalnya,  kekerasan verbal yang awalnya ditujukan untuk mendispilkan perilaku atau menanamkan  moral kepada anak, justru berakibat sangat buruk bagi perkembangan tumbuh sang anak dan  menimbulkan dampak trauma kepada anak.

Dilansir dari parentingcenter.id, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk  menyudahi kebiasaan mereka tersebut, seperti: 

1. Melatih diri untuk menahan emosi (sabar) 

2. Perhatikan intonasi dan nada bicara 

3. Sempatkan waktu bersama dengan anak, agar dapat berkomunikasi dan memahami satu  sama lain 

4. Ganti kalimat negatif ke kalimat positif (misalnya, bahasa santun) 

Kemudian yang paling penting adalah membiasakan mengakui kesalahan dan meminta maaf.  Terkadang saat emosi sedang memuncak kontrol terhadap diri menjadi lemah. Akibatnya,  secara tidak sadar ada saja perlakuan/ucapan yang tidak seharusnya dilakukan kepada anak.  Sikap mengakui kesalahan dan minta maaf dapat menjadi layaknya sebuah lem kertas. Jika  dianalogikan dengan sebuah kertas yang robek, maka lem kertas menjadi alat yang  menghubungkan kembali bagian-bagian kertas yang robek tersebut. Dengan kata lain, sikap  saling hormat antara orang tua dan anak, serta saling menghargai hak dan mengerti tanggung  jawab sebagai orang tua, dapat menghindari tindakan-tindakan kekerasan verbal kepada anak. 

Daftar Pustaka 

Adilah, R. Y. (2020, Juli 20). Merdeka. Retrieved from Merdeka.com:  https://www.merdeka.com/peristiwa/kemenkes-sebut-62-persen-anak-alami kekerasan-verbal-selama-pandemi.html 

Alodokter. (2020, April 17). Alodokter. Retrieved from Alodokter.com:  https://www.alodokter.com/jangan-sering-dimarahi-ini-dampak-yang-akan-terjadi pada-anak 

Kirana, P. (2020, Juni 24). ParentingCenter.id. Retrieved from https://parentingcenter.id/:  https://parentingcenter.id/?s=Kenali+6+Bahaya+Kekerasan+Verbal+pada+Anak+dan +Memutus+Mata+Rantai+Kekerasan 

Mark R. Dadds, L. T. (2019). What Is It To Discipline a Child: What Should It Be? A  Reanalaysis of Time-Out From the Perspective of Child Mental Health, Attachment,  and Trauma. American Psychologist, 10-17. 

Rakhmawati, I. (2015). PERAN KELUARGA DALAM PENGASUHAN ANAK. Jurnal  Bimbingan Konseling Islam, 1-18. 

Zuhrudin, A. (2017). Reformulasi Bahasa Santun sebagai Upaya Melawan Kekerasan Verbal  Terhadap Anak. Jurnal Studi Gender, 1-12.